PEMANFAATAN LINGKUNGAN SEBAGAI SUMBER BELAJAR
Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Pengembangan
Media dan Sumber Belajar PAI
Dosen pengampu :Dr. Sukiman, M.Pd.
Disusun oleh:
1.
Laila Nuri
Safaah (13410236)
2.
Diah Rusmala
Dewi (13410239)
3.
Yatini (13410240)
JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
UIN SUNAN KALIJAGA
YOGYAKARTA
2014/2015
KATA PENGANTAR
Assalamualaikum
Warahmatullahi Wabarakatuh
Bissmillahirrahmanirrahim.
Puji syukur penyusun panjatkan kehadirat Allah SWT atas limpahan
rahmat dan karuniaNya sehingga penyusun dapat menyelesaikan makalah yang
berjudul “Pemanfaatan Lingkungan sebagai Sumber Belajar” dengan tidak ada
halangan suatu apapun.
Kehadiran makalah ini selain dimaksudkan untuk memenuhi tugas
portofolio juga sebagai tambahan informasi bagi para pendidik ataupun calon
pendidik pada khususnya agar lebih mengenal lingkungan belajar.Melalui makalah
ini, penyusun bermaksud untuk mengubah mindsetberikut ini “kegiatan
pembelajaran hanya terfokus di dalam kelas” menjadi “kegiatan pembelajaran luar
kelas yang menyenangkan”.
Penyusun menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini tentu tidak
terlepas dari bantuan berbagai pihak yang telah memberikan kontribusi pemikiran
sehingga penyusunan makalah ini dapat terselesaikan sebagaimana mestinya. Untuk itu penyusun
mengucapkan terimakasih kepada semua pihak, terutama kepada:
1.
Orangtua yang
senantiasa memberikan dukungan atas segala aktivitas positif yang kami lakukan
2.
Bapak Sukiman
selaku dosen Pengampu mata kuliah Pengembangan Media dan Sumber Belajar PAI
3.
Pihak-pihak
yang gagasannya terkutip dalam makalah ini
4.
Teman-temanku,
khususnya keluarga PAI-F yang selalu memberikan inspirasi, motivasi, dan
dukungannya.
Teriring doa yang tulus dari
penyusun, Semoga allah SWT berkenan membalas dengan pahala yang setimpal atas
segala budi baik dan amal bantuan mereka semua. Akhirnya, meski jauh dari kesan
sempurna, makalah ini penyusun persembahkan kepada pembaca yang budiman.Kritik
dan saran yang sifatnya membangun senantiasa penyusun harapkan demi menuju
perbaikan.
Yogyakarta,
22 November 2014
Penyusun
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB 1 PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
B.
Rumusan Masalah
C.
Tujuan
D.
Manfaat
BAB II ISI
A.
Lingkungan
Belajar
1.
Pengertian
2.
Jenis
B.
Pentingnya
Pemanfaatan Lingkungan Belajar
1.
Peran
lingkungan sebagai sumber belajar
2.
Pentingnya
aktivitas outdoor bagi perkembangan anak
3.
keuntungan
C.
Memanfaatkan Lingkungan
sebagai Sumber Belajar
1.
Prinsip umum
penataan arena bermain outdoor
2.
Teknik
menggunakan lingkungan sebagai sumber belajar
3.
Langkah dan
prosedur penggunaan
BAB III PENUTUP
A.
Kesimpulan
B.
Saran
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Aktivitas
belajar di sekolah bagi seorang murid merupakan rutinitas wajib yang selalu
dilakukan mulai dari pagi hari hingga siang hari. Hal ini bukan tidak mungkin
akan menimbulkan kebosanan dalam diri siswa jika metode belajar yang dipakai
tidak dibungkus secara menarik. Apalagi jika kegiatan belajarnya hanya
difokuskan di dalam kelas. Siswa tidak akan berkembang baik dari segi kognitif,
afektif maupun psikomotoriknya karena tidak ada hal lain yang mereka jumpai di
dalam kelas kecuali guru, teman kelas, meja, kursi,dan perlengkapan kelas
lainnya. Padahal jika kita lihat di luar sana sumber pengetahuan terbuka lebar
untuk diraih. Oleh karena itu disinilah pentingnya menggunakan lingkungan
sebagai sumber belajar yang lain. Lingkungan menyediakan pengetahuan faktual
sehingga anak tidak hanya berimajinasi akantetapi benar-benar mengalami.
B.
Rumusan Masalah
1.
Apakah yang
dimaksud dengan lingkungan belajar?
2.
Mengapa kita
perlu memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar?
3.
Bagaimanakah
cara memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar?
C.
Tujuan
1.
Mengetahui
tentang lingkungan belajar
2.
Mengetahui
perlunya memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar
3.
Mengetahui cara
memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar
D.
Manfaat
1.
Memberikan
pengetahuan mengenai lingkungan belajar yang sesuai untuk dimanfaatkan dalam
pembelajaran
2.
Membantu
memaksimalkan lingkungan belajar yang belum dikelola dengan baik
3.
Mengubah
mindset pendidik bahwa belajar tidak hanya terfokus di dalam kelas
BAB II
PEMBAHASAN
A.
LINGKUNGAN
BELAJAR
1.
Pengertian
lingkungan belajar adalah suatu tempat yang berfungsi
sebagai wadah atau lapangan terlaksananya proses belajar mengajar atau
pendidikan. Tanpa adanya lingkungan, pendidikan tidak dapat berlangsung.
Menurut Huta barat (1986) lingkungan belajar yaitu
lingkungan yang alami dan lingkungan sosial, lingkungan alami meliputi keadaan
suhu dan kelembapan udara, sedangkan lingkungan sosial dapat berwujud
manusia.Menurut dun dan dun (1999) kondisi belajar atau lingkungan belajar dpat
mempengaruhi konsentrasi dan penerimaan informsi bagi siswa, jadi lingkungan
belajar adalah lingkungan alami yang diciptakan oleh guru atau orang lain yang
bisa menambah konsentrasi siwa dan pengetahuan siswa secara efisien.
Proses pembelajaran bisa berlangsung pada banyak lingkungan yang berbeda,
tidak hanya terikat pada ruang kelas akan tetapi bisa pada lingkungan umum
seperti masjid, museum, lapangan dan juga bisa berlangsung di sarana dan
prasarana sekolahan[1].
2.
Jenis
Dari semua lingkungan masyarakat yang dapat digunakan
dalam proses pendidikan dan pengajaran secara umum dapat dikategorikan menjadi
tiga macam lingkungan belajar yakni lingkungan sosial, lingkungan alam dan
lingkungan buatan.
a. Lingkungan sosial
Lingkungan belajar sebagai sumber belajar berkenaan
dengan interaksi manusia dengan kehidupan masyarakat, seperti organisasi
sosial, adat dan kebiasaan, mata pencaharian, kebudayaan, pendidikan,
kependudukan,struktur pemerintahan, agama dan sistem nilai. Lingkungan sosial
tepat digunakan untuk mempelajari ilmu-ilmu sosial dan kemanusiaan. Dalam
praktek pengajaran penggunaan lingkungan sosial sebagai media dan sumber
belajar hendaknya dimulai dari lingkungan yang paling dekat, seperti keluarga,
tetangga, rukun tetangga, rukun warga, desa,
kecamatan, dan seterusnya. Hal ini disesuaikan dengan kurikulum yang berlaku
dan tingkat perkembangan anak didik. Sebagai contoh: dalam pembelajaran ilmu
bumi dan kependudukan siswa diberi tugas untuk mempelajari aspek kependudukan
di rukun tetangganya. Siswa diminta untuk mempelajari jumlah penduduknya,
jumlah keluarga, dan pertumbuhan penduduk dari tahun ke tahun.Dalam studi ini
siswa menghubungi ketua RT dan bertanya kepadanya, disamping melihat sendiri
keadaan penduduk di RT tersebut.Hasilnya dicatat dan dilaporkan di sekolah
untuk dipelajari lebih lanjut.Kegiatan seperti ini ditugaskan kepada siswa
dalam bentuk kelompok, agar mereka bekerja bersama-sama. Melalui kegiatan
tersebut, siswa lebih aktif dan lebih produktif sebab ia mengerahkan usahanya
untuk memperoleh informasi sebanyak-banyaknya dari sumber-sumber yang nyata dan
faktual.
b. Lingkungan alam
Lingkungan alam berkenaan dengan segala sesuatu yang
sifatnya alamiah seperti keadaan geografis, iklim, suhu udara, musim, curah
hujan, flora (tumbuhan), fauna (hewan), sumber daya alam ( air, hutan, tanah,
batu-batuan, dan lain-lain). Lingkungan alam tepat digunakan untuk bidang studi
ilmu pengetahuan alam.
Aspek-aspek lingkungan alam diatas dapat dipelajari
secara langsung oleh para siswa melalui cara-cara seperti telah dijelaskan
sebelumnya. Mengingat sifat-sifat dari gejala alam relatif tetap tidak seperti
dalam lingkungan sosial, maka akan lebih mudah dipelajari para siswa. Siswa
dapat mengamati dan mencatatnya secara pasti, dapat mengamati
perubahan-perubahan yang terjadi termasuk proses dan sebagainya. Gejala lain
yang dapat dipelajari adalah kerusakan-kerusakan lingkungan alam termasuk
faktor penyebabnya seperti erosi, penggundulan hutan, pencemaran air, tanah,
udara, dan sebagainya.
Dengan mempelajari lingkungan alam diharapkan para
siswa dapat lebih memahami materi pelajaran di sekolah serta dapat menumbuhkan
kecintaan alam, kesadaran untuk menjaga dan memelihara lingkungan, turut serta
dalam menanggulangi kerusakan dan pencemaran lingkungan serta tetap menjaga
kelestarian lingkungan dan sumber daya alam bagi kehidupan manusia[2].
c. Lingkungan buatan
Lingkungan
buatan yakni lingkungan yang sengaja diciptakan atau dibangun manusia untuk
tujuan-tujuan tertentu yang bermanfaat bagi kehidupan manusia. Lingkungan
buatan antara lain irigasi atau pengairan, bendungan, taman, kebun binatang,
perkebunan, tenaga pembangkit listrik, dll. Siswa dapat mempelajari lingkungan
buatan dari berbagai aspek seperti prosesnya, pemanfaatanya, fungsinya,
pemeliharaannya, daya dukungnya, serta aspek lain yang berkenaan dengan
pembangunan dan kepentingan manusia pada umumnya. Lingkungan buatan dapat dikaitkan
dengan kepentingan berbagai bidang studi yang diberikan di sekolah[3].
B.
PENTINGNYA
MEMANFAATKAN LINGKUNGAN BELAJAR
1.
Peran Lingkungan
a.
Lingkungan
sebagai sasaran belajar.
Segala sesuatu di sekitar anak itumerupakan obyek untuk
dipelajari/diajarkan kepada anak, atau lingkungan sebagai sasaran belajar bagi
anak.Misalkan kita mempelajari tentang kurban, zakat, manasik haji,
taharah.Untuk mempelajari materi tersebut maka kita memerlukan hewan kurban,
manusia, benda zakat, atau lahan yang ada di lingkungan sekitar siswa yang
disetting seperti ka’bah.
b.
Lingkungan
sebagai sumber belajar
Beberapa sumber belajar misalnya guru,buku-buku, laboratorium,
kebun sekolah, tenaga ahli, lingkungan sekitar dan sebagainya.Lingkungan
merupakan sumber belajar yang tak habis-habisnya memberikan pengetahuan bagi
anak.Misalnya dalam mempelajari perilaku tercela maka kita dapatmemanfaatkan lingkungan
yaitu lingkungan yang tercemar atau lingkungan sekolah yang kotor sebagai salah
satu akibat dari perilaku tercela.
c.
Lingkungan
sebagai sarana belajar.
Setiap proses belajar memerlukan saranabelajar, misal ruang kelas
dengan perabotnya, laboratorium dengan perlengkapannya, perpustakaan dan
sebagainya. Lingkungan sebagai saranabelajar yang baik, bahkan lingkungan
sekitar yang alami menyediakan bahan–bahan yang tidak usah dibeli, misalnya
untuk menunjukkan tanda-tanda kekuasaan allah maka kita bisa membawa murid
keluar kelas, kemudian mereka diminta untuk mengamati betapa banyak ciptaan
allah yang ada di dunia ini.
Dengan demikian lingkungan merupakan sarana belajar yang ekonomis.(Darmodjo,
1993)[4].
2.
Pentingnya Aktivitas
Outdoor dalam Optimalisasi Perkembangan Anak
Melalui
aktivitas di luar ruangan atau outdoor semua bagian perkembangan anak
dapat ditingkatkan.Hal ini terjadi karena aktivitas outdoor melibatkan
multiaspek perkembangan anak.Aktivitas outdoor lebih berperan dalam
mengintergasikan sensoris dan berbagai potensi yang dimiliki anak.Hal ini
termasuk perkembangan fisik, ketrampilan sosial, dan pengetahuan budaya, serta
perkembangan emosional dan intelaktual[5].
a.
Perkembangan
fisik
Aktivitas
outdoor dapat menjadi tempat yang menunjang bagi berbagai kegiatan dan
kesemapatan belajar bagi anak-anak.Namun, bagi kebanyakan anak, peran
terpenting aktivitas outdoor adalah untuk merangsang perkambangan serta
partumbahan fisik.Melalui kegiatan fisik, anak-anak mendapatkan kesempatan
untuk menjadi lebih sosial, mempelajari peraturan-peraturan, belajar
kemandirian, mengembangkan rasa percaya diri, mengembangkan intelektualnya, dan
belajar menyelesaiakan permasalahan yang muncul.
Manfaat lain
dari bermain di luar adalah anak-anak menjadi tahu dan mengenal reaksi tubuh
mereka sendiri saat bekerja dalam ruangan dan membandingkannya dengan situasi
ketika beraktivitas di luar.
b.
Perkembangan
keterampilan sosial dan pengetahuan budaya
Lingkungan di
luar ruangan secara alami mendorong interaksi di antara sesama anak ataupun di
antara orang dewasa dan anak-anak.Dengan interaksi ini maka keterampilan sosial
mereka dapat terkembangkan. Mereka dapat mengunjungi kantor pemadam kebakaran,
kantor pos, museum, rumah yatim piatu, ataupun rumah sakit. Dengan acara
kunjungan ini anak-anak dapat mengembangkan sikap empati serta mengenal fungsi
dan manfaat lingkungannya.Ia juga dapat mempelajari dan mengenal kondisi
sosial-budaya masyarakatnya. Ia dapat melihat, mengamati, mendengarkan
pembicaraan orang lain, mengenal etika ketika berhadapan dengan orang lalin,
bertanya dan mencoba perlengkapan yang ia temui.
c.
Perkembangan
emosional
Permainan di
luar ruangan banyak memberikan peluang dan tantangan baru bagi anak.Permasalahan
yang dihadapi relatif lebih kompleks dari hari ke hari.Bagi anak hal ini dapat
menjadi pembelajaran yang baik.Dengan menguasai banyak tantangan yang dihadapi
di luar membuat anak-anak lebih mengembangkan rasa percaya dirinya yang
positif.
Rasa percaya terhadap diri sendiri dan orang lain dikembangkan
melalui pengalaman hidup yang nyata. Seseorang anak membutuhkan beberapa
keterampilan emosional yang harus ia penuhi, yaitu:
·
Ia harus
mengenal kemampuannya dan mengakui ketidakmampuannya
·
Ia harus belajar
meminta tolong dengan cara yang baik kepada orang lain saat membutuhkannya
·
Ia harus
memiliki kepercayaan terhadap bantuan orang lain
·
Ia harus
menghargai bantuan tersebut dengan terimakasih
Bagi anak, kemampuan untuk membicarakan perasaannya dapat terjadi
secara alami jika ia berada di luar ruangan.
d.
Perkembangan
intelektual
Di luar ruangan
anak-anak melakuakan proses belajar melalui interaksi langsung dengan
benda-benda ataupun ide-ide. Lingkungan di luar ruangan memberi kesempatan
kepada guru untuk membantu anak dan menguatkan kembali konsep-konsep yang telah
dipelajari sebelumnya dengan contoh yang lebih konkret dan nyata (riil),
seperti warna, angka, bentuk dan ukuran.
Beberapa konsep
dapat diajarkan secara alami di luar ruangan daripada di dalam ruangan.Sebagai
salah satu contoh misalnya tentang keajaiban alam dan ilmu pengetahuan yang
dapat diamati langsung oleh anak.Melalui lingkungan belajar di luar ruangan,
anak-anak dapat belajar mengamati serta menganalisis situasi-situasi di luar
ruangan.Mereka dapat mempertanyakan berbagai interaksi dan perubahan alam,
sehingga pengetahuan dasar mereka tentang sains dapat berkembang pula.Manfaat
lain yang diperoleh anak melaui lingkungan luar adalah adanya kesempatan
terbuka lebar yang membuat anak-anak mengembangkan daya khayal serta
kreativitasnya.
3.
Keuntungan
Banyak
keuntungan yang diperoleh dari kegiatan mempelajari lingkungan dalam proses
belajar antara lain:
a.
Kegiatan
belajar lebih menarik dan tidak membosankan siswa duduk di kelas
berjam-jam,sehingga motivasi belajar siswa akan lebih tinggi.
b.
Hakikat belajar
akan lebih bermakna sebab siswa dihadapkan dengan situasi dan keadaan yang sebenarnya atau bersifat alami
c.
Bahan-bahan
yang dapat dipelajari lebih kaya serta lebih factual sehingga kebenarannya lebih
akurat
d.
Kegiaan belajar
siswa lebih komprehensif dan lebih aktif sebab dapat dilakukan dengan berbagai
cara seperti mengamati, bertanya atau wawancara, membuktikan atau
mendemonstrasikan, menguji fakta, dan lain-lain.
e.
Sumber belajar
menjadi lebih kaya sebab lingkungan yang dapat dipelajari bisa beraneka raga
seperti lingkungan sosial, lingkungan alam, lingkungan buatan, dan lain-lain.
f.
Siswa dapat
memahami dan menghayati aspek-aspek kehidupan yang ada di lingkungannya,
sehingga dapat membentuk pribadi yang tidak asing dengan kehidupan di
sekitarnya, serta dapat memupuk cinta lingkungan.
C.
MENGGUNAKAN
LINGKUNGAN SEBAGAI SUMBER BELAJAR
1.
Prinsip umum
penataan arena bermain outdoor
a.
Memenuhi aturan
keamanan
Keamanan
merupakan hal utama yang harus diperhatikan oleh pihak sekolah. Hal ini
dilakukan untuk mengatisipasi kecelakaan yang dapat terjadi kapan saja, dan di
mana saja
b.
Melindungi dan
meningkatkan karakteristik alamiah anak
Pada
umumnya anak-anak secara alamiah sangat menyukai aktivitas di luar ruangan. Bagi
anak situasidan kondisi apa pun dapat menjadi kegiatan yang menarik. Melalui
aktivitas ourdoor para guru diharapkan memahami kebutuhan tersebut dan
memfasilitasinya tanpa banyak melakukan intervensi.
c.
Desain
lingkungan luar kelas harus didasarkan pada kebutuhan anak
Sebagian
profesional dalam bidang anak usia dini sepakat bahwa bermain dapat
meningkatkan berbgai aspek perkembangan (yakni fisik, kognitif, sosial dan
emosi) sekalipun penekanan ditempatkan pada berbagai aspek perkembangan akan
bervariasi tergantung pada focus dan prioritas program yang diberlakukan
d.
Secara estetis
harus menyenangkan
Ruang
outdoor harus menarik bagi semua indra. Hal ini akan berpengaruh terhadap
motivasi anak untuk beraktivitas, juga meningkatkan kepekaan rasa anak dalam menyerap
estetika[6].
2.
Teknik Menggunakan
Lingkungan sebagai Sumber Belajar
Ada beberapa
cara bagaimana mempelajari lingkungan sebagai media dan sumber belajar, yaitu:
a.
Survey
siswa mengunjungi lingkungan seperti masyarakat setempat untuk
mempelajari proses sosial, budaya, eonomi, kependudukan dan lain-lain. Kegiatan
belajar dilakukan siswa melalui observasi, wawancara dengan berbagai pihak yang
dipandang perlu, mempelajari data atau dokumen yang ada, dan lain-lain.Hasilnya
dicatat dan dilaporkan di sekolah untuk dibahas bersama dan disimpulkan oleh
guru dan siswa untuk melengkapi bahan pengajaran.
b.
Field
trip atau karya wisata
Dalam
pengertian pendidikan karyawisata adalah kunjungan siswa keluar kelas untuk
mempelajari objek tertentu sebagai bahan integral dari kegiatan kurikuler di
sekolah. Objek karyawisata harus relevan dengan bahan pengajaran misalnya
museum untuk pelajaran sejarah, kebun binatang untuk pelajaran biologi, taman
mini untuk pelajaran ilmu bumi dan kebudayaan, peneropongan bintang di Lembang
untuk fisika dan astronomi. Karyawisata sebaiknya dilakukan pada akhir semester
atau catur wulan dan dikaitkan dengan keperluan pengajaran dari berbagai bidang
studi secara bersama-sama dan dibimbing oleh guru bidang studi yang
bersangkutan.
c.
Praktik lapangan
Praktik
lapangan dilakukan oleh para siswa untuk memperoleh ketrampilan dan kecakapan
khusus.Misalnya siswa SPG diterjunkan ke sekolah dasar untuk melatih kemampuan
sebagai guru di sekolah.Siswa SMEA dikirimkan ke perusahaan untuk mempelajari
dan mempraktekkan pembukuan, akutansi dan lain-lain.
d.
Mengundang
manusia sumber atau narasumber
Sekolah
mengundang tokoh masyarakat ke sekolah untuk memberikan penjelasan mengenai
keahliannya di hadapan para siswa. Misalnya mengundang dokter atau mantri
kesehatan untuk menjelaskan berbagai penyakit, petugas keluarga berencana untuk
menjelaskan keluarga kecil, petugas pertanian untuk menjelaskan cara bercocok tanam, dan
lain-lain.
e.
Melalui proyek
pelayanan dan pengabdian pada masyarakat
Cara ini
dilakukan apabila sekolah (guru dan siswa secara bersama-sama melakukan
kegiatan memberikan bantuan kepada masyarakat seperti pelayanan, penyuluhan,
partisipasi dalam kegiatan masyarakat, dan kegiatan lain yang diperlukan.
Misalnya para siswa membantu memberikan pelayanan posyandu, perbaikan jembatan,
jalan-jalan, kebersihan lingkungan, dan lain-lain[7].
f.
Night
at school
Night at school
adalah pintu gerbang untuk mengikuti asyiknya petualangan belajar. Di saat anak
kelas satu sudah merasa nyaman
berinteraksi di sekolah, maka kini saatnya mereka mendapatkan suasana yang
berbeda: berpisah dengan orangtua selama semalam, dan tidur bersama
teman-teman.Dengankata lain, NAS merupakan ajang pembuktian: mampukah anak-anak
sejenak terlepas dari rumah? Melalui kegiatan ini guru bisa menjalin kedekatan
emosi dengan anak-anak.Tujuan NAS adalah meningkatkan keberanian, kemandirian,
tanggungjawab dan leadership.Pembentukan karakter dimulai sejak awal anak masuk
sekolah.NAS bisa menjadi salah satu alat ukur, sampai di mana kemajuan yang
mereka peroleh selama tiga bulan bersekolah.Selama menginap di sekolah, semua
anak berusaha mengurus diri sendiri.Tidak ada orang tua atau guru yang
membantu.Kalaupun ada, maka yang membantu adalah teman-teman mereka sendiri.Mereka
makan malam bersama-bakar jagung, ayam, atau ikan jika ada.Shalat berjamaah,
mengaji, menyimak kisah-kisah kepahlawanan, dan saling bercerita.Dalam suasana
yang akrab, anak-anak kelas 1 diharapkan mulai berani mengungkapkan pendapat,
dan anak-anak kelas 2-3 mulai belajar menghargai pendapat kawan dan adik-adik
kelasnya.
g.
Homestay
Program ini
mengantarkan anak-anak berinteraksi dengna kehidupan yang sangat berbeda dengan
kesehariannya.Selama tiga hari mereka bukan hanya berpisah dengan keluarga dan
merasakan suasana keluarga baru, tetapi juga mengukuhkan suasana pedesaan,
mengolah kemampuan beradaptasi, dan menegakkan kemandirian. Di desa, anak-anak
juga memperoleh kesempatan yang segar untuk memupuk jiwa kepemimpinan, rasa
percaya diri, dan empati. Tidak ketinggalan muatan kurikulum juga dimasukkan
dalam kemasan program homestay.Homestay berbeda dengan piknik ke kampung
wisata.Tiga sampai empat anak dititipkan selama dua malam tiga hari di
rumah-rumah penduduk desa. Selain pertimbangan vegetasi dan topografi yang bisa
menjadi wahana belajar, tim survei juga memastikan bahwa penduduk desa yang
menjadi lokasi homestay bersedia menerima “kehebohan” anak-anak.
h.
Camping
Camping
merupakan aktivitas yang menguji ketahanan fisik, mental, dan juga emosi. Kerja
sama tim, tanggungjawab, dan kepemimpinan anak-anak dilatih. Tujuannya jelas
yaitu melatih tanggungjawab dan kepemimpinan.Orangtua diminta untuk menahan
diri, dan lebih banyak memberikan kepercayaan kepada anak-anak.Bantuan yang
berlebihan berarti merebut kesempatan anak untuk belajar.Game-game dirancang
untuk membentuk kekompakan, kepemimpianan, tanggungjawab dan kegigihan. Game
ketahanan fisik seperti merayap, memanjat, meluncur, dan menjaga keseimbangan
diujikan. Sambil menjalankan ujian fisik, berbagai pertanyaan brain buster juga
dilontarkan para guru untuk melatih konsentrasi. Ada juga game yang menguji
konsentrasi seperti mengoper telur jatah makan malam mereka dengan
menggulirkannya dari satu anak ke anak lain menggunakan kulit batang pisang.
Jika telur sampai jatuh dan pecah, maka lenyaplah lauk untuk makan malam itu.
Kegiatan camping juga diisi uji keberanian berjalan di tengah
malam.Tujuannya bukan menakut-nakuti anak.Karena itu, materi di setiap pos juga
dirancang untuk membangun ketahanan mental dan control emosi.
i.
Supercamp
Kunci
keberhasilan belajar adalah menguasai cara belajar. Di supercamp anak-anak
kelas 5 dan 6 dibimbing untuk menggidentifikasi gaya belajar yang efektif bagi
dirinya. Bukan hanya itu, mereka dipandu untuk mengenal diri sendiri, memahami
perasaan atau keinginan dan cara pengungapannya dan mampu menentukan tujuan.
Selama supercamp,
anak mendapatkan pengalaman tentang bagaimana mengelola dan memanfaatkan
waktu.Mereka dilatih untuk mengerjakan tugas dengan alokasi waktu yang
jelas.Tujuan yang lebih besar adalah agar anak mendapatkan insight bahwa
sesungguhnya mereka adalah pribadi yang unik dan hebat.
Melalui
berbagai kuis, anak-anak dituntun untuk menemukan suasana yang bisa membantunya
belajar. Selain itu, mereka juga menelisik factor-faktor apa saja yang bisa
mengganggu konsentrasinya. Ada juga kuis yang didesain untuk memetakan,
bagaimana seorang anak memandang diri,
lingkungan, kedua orangtua dan keluarganya.Berikut sekilas materi yang biasa
diberikan dalam supercamp:Menciptakan pusat belajar di rumah, manajemen
waktu, tips dan trik menyimak dan mencatat, menjadi pembaca yang lebih baik, menulis
dengan benar[8].
3.
Langkah dan
Prosedur Penggunaan
Menggunakan
lingkungan sebagai media dan sumber belajar dalam proses pengajaran memerlukan
persiapan dan perencanaan yang seksama dari guru. Tanpa perencanaan yang matang
kegiatan belajar siswa bisa tiak terkendali, sehingga tujuan pengajaran tidak
tercapai dan siswa tidak melakukan kegiatan belajar yang diharapkan. Ada
beberapa langkah yang harus ditempuh dalam menggunakan lingkungan sebagai media
dan sumber belajar, yakni[9]:
a.
Langkah
persiapan
Ada beberapa prosedur yang harus ditempuh pada langkah persiapan
yakni:
1)
Guru dan siswa
menentukan tujuan belajar yang diharapkan diperoleh para siswa berkaitan dengan
penggunaan lingkungan sebagai media dan sumber belajar.
2)
Tentukan objek
yang harus dipelajar dan dikunjungi. Dalam menetapkan objek kunjungan tersebut
hendaknya diperhatikan relevansi dengan tujuan belajar.
3)
Menentukan cara
belajar siswa pada saat kunjungan dilakukan. Misalnya mencatat apa yang
terjadi, mengamati suatu proses, bertanya atau wawancara. Di samping itu ada
baiknya siswa dibagi menjadi beberapa kelompok dan setiap kelompok diberi tugas
khusus dalam kegiatan belajarnya.
4)
Guru dan siswa
mempersiapkan perizinan jika diperlukan. Misalnya membuat dan mengirimkan surat
permohonan untuk mengunjungi objek tersebut agar mereka dapat mempersiapkannya.
5)
Persiapan
teknis yang diperlukan untuk kegiatan belajar, seperti tata tertib di
perjalanan dan di temapat tujuan, perlengkapan belajar yang harus dibawa,
menyusun pertanyaan yang akan diajukan,kalau ada kamera untuk mengambil foto,
transportasi yang digunakan, biaya, makanan, atau perbekalan, perlengkapan P3K.
b.
Langkah
pelaksanaan
Pada langkah
ini adalah menentukan kegiatan belajar di tempat tujuan sesuai dengan rencana
yang telah dipersiapkan.
1)
Kegiatan
belajar diawali dengan penjelasan petugas mengenai objek yang dikunjungi
2)
Para siswa
mengajukan beberapa pertanyaan melalui kelompoknya masing-masing supaya lebih
hemat.
3)
Semua siswa
mencatat semua informasi yang diperoleh
4)
Para siswa
melihat dan mengamati objek yang dipelajari (para petugas memberikan penjelasan
berkaitan dengan cara kerja atau proses kerja)
5)
Para siswa
dalam kelompoknya mendiskusikan hasil-hasil belajarnya
6)
Akhir kunjungan
para siswa mengucapkan terimakasih kepada petugas dan pimpinan objek tersebut
Apabila objek
kunjungan sifatnya bebas dan tak perlu ada petugas yang mendampinginya, seperti
kemah, mempelajari lingkungan sosial, dan lain-lain, para siswa langsung mempelajari
objek studi, mencatat dan mengamatinya atau mengadakan wawancara dengan siapa
saja yang menguasai persoalan.
c.
Tindak lanjut
Tindak lanjut
dari kegiatan belajar melalui lingkungan adalah membahas dan mendiskusikan
hasil yang diperoleh siswa selama kegiatan berlangsung.
1)
Setiap kelompok
diminta melaporkan hasil-hasilnya untuk dibahas bersama.
2)
Guru meminta
kesan-kesan yang diperoleh siswa dari kegiatan belajar tersebut, disamping
menyimpulkan materi yang diperoleh dan dihubungkan dengan bahan pengajaranbidang
studinya.
3)
Guru memberikan
penilaian terhadap kegiatan belajar siswa dan hasil-hasil yang dicapainya.
Proses pengajaran yang mengoptimalkan lingkungan sebagai media dan
sumber belajar dikenal dengan pendekatan ekologis.
PENUTUP
A.
Kesimpulan
1. Lingkunganbelajar adalah suatu tempat yang berfungsi sebagai wadah atau
lapangan terlaksananya proses belajar mengajar atau pendidikan.
2.
Jenis
lingkungan belajar meliputi : lingkungan sosial, lingkungan alam, dan
lingkungan buatan.
3.
Peran
lingkungan belajar: lingkungan sebagai sasaran belajar,lingkungan
sebagai sumber belajar ,danlingkungan sebagai sarana belajar.
4.
Pentingnya
aktivitas outdoor dalam optimalisasi perkembangan anak :melalui aktivitas di
luar ruangan atau outdoor semua bagian perkembangan anak dapat
ditingkatkan. Hal ini termasuk perkembangan fisik, ketrampilan sosial, dan
pengetahuan budaya, serta perkembangan emosional dan intelaktual.
5.
Keuntungan
lingkungan sebagai sumber belajar:
a.
Kegiatan
belajar lebih menarik dan tidak membosankan
b.
Hakikat belajar
akan lebih bermakna
c.
Bahan-bahan
yang dapat dipelajari lebih kaya serta lebih factual
d.
Kegiaan belajar
siswa lebih komprehensif dan lebih aktif
e.
Sumber belajar
menjadi lebih kaya
f.
Siswa dapat
memahami dan menghayati aspek-aspek kehidupan yang ada di lingkungannya
6.
Prinsip umum
penataan arena bermain outdoor:
a.
Memenuhi aturan
keamanan
b.
Melindungi dan
meningkatkan karakteristik alamiah anak
c.
Desain
lingkungan luar kelas harus didasarkan pada kebutuhan anak
d.
Secara estetis
harus menyenangkan
7.
Teknik menggunakan
lingkungan sebagai sumber belajar:
a.
Survey
b.
Field trip atau
karya wisata
c.
Praktik
lapangan
d.
Mengundang
manusia sumber atau narasumber
e.
Melalui proyek
pelayanan dan pengabdian pada masyarakat
f.
Night at school
g.
Homestay
h.
Camping
i.
Supercamp
a.
Langkah
persiapan
b.
Langkah
pelaksanaan
c.
Tindak lanjut
B.
Saran
Para
pendidik hendaknya tidak hanya membuat kegiatan pembelajaran terfokus di kelas,
akantetapi juga mengajak murid sesekali belajar di luar kelas.Hal ini disamping
untuk mengenalkan anak pada lingkungan sekitar juga dimaksudkan untuk
memberikan variasi metode mengajar yang menyenangkan.
DAFTAR PUSTAKA
Sudjana, Nana dan Ahmad Rivai.1990.Media Pengajaran:penggunaan
dan pembuatannya.Bandung: Sinar Baru.
Mariyana,Rita. et.al.2010.Pengelolaan Lingkungan Belajar.
Jakarta: Kencana.
Farida,Ana. et.al.2012. Sekolah yang Menyenangkan.Bandung:
Nuansa Cendekia.
Samal, Sharon E. et.al.2011.Teknologi Pembelajaran dan Media
Untuk Belajar.Jakarta: Kencana.
Pratiwi Pudjiastuti.2009.Pemanfaatan Lingkungan Sekitar
dalam Pembelajaran IPA di Sekolah Dasar(SD).Yogyakarta.
[1]Sharon, E. Samal, Dino
dkk., Teknologi Pembelajaran dan Media Untuk Belajar (Jakarta:
Kencana,2011) hal 17
[2]Nana Sudjana dan Ahmad Rivai, Media Pengajaran (Bandung: Sinar Baru
Algensindo, 2007) hal 212-213
[3]Nana Sudjana dan Ahmad Rivai, Media Pengajaran (Bandung: Sinar Baru
Algensindo, 2007) hal 214
[4]Pratiwi
Pudjiastuti. Pemanfaatan Lingkungan Sekitar dalam Pembelajaran IPA di
Sekolah Dasar(SD).(Yogyakarta: 2009) Hal 5
[5] Rita Mariyana.et.al.Pengelolaan
Lingkungan Belajar.(Jakarta: Kencana,2010).Hal 101
[7]Nana Sudjana dan Ahmad Rivai, Media Pengajaran (Bandung: Sinar Baru
Algensindo, 2011) hal 209
[8] Anna Farida.
et.al.Sekolah yang Menyenangkan.(Bandung:Nuansa Cendekia,2012) hal 239
[9]Nana Sudjana dan Ahmad Rivai,Media Pengajaran (Bandung: Sinar Baru
Algensindo, 2007) hal 214