Kamis, 18 Desember 2014

pemanfaatan lingkungan sebagai sumber belajar



PEMANFAATAN LINGKUNGAN SEBAGAI SUMBER BELAJAR
Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Pengembangan Media dan Sumber Belajar PAI
Dosen pengampu :Dr. Sukiman, M.Pd.


  

Disusun oleh:

1.      Laila Nuri Safaah                    (13410236)
2.      Diah Rusmala Dewi                (13410239)
3.      Yatini                                      (13410240)


JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
UIN SUNAN KALIJAGA
YOGYAKARTA
2014/2015
KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Bissmillahirrahmanirrahim.

Puji syukur penyusun panjatkan kehadirat Allah SWT atas limpahan rahmat dan karuniaNya sehingga penyusun dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Pemanfaatan Lingkungan sebagai Sumber Belajar” dengan tidak ada halangan suatu apapun.
Kehadiran makalah ini selain dimaksudkan untuk memenuhi tugas portofolio juga sebagai tambahan informasi bagi para pendidik ataupun calon pendidik pada khususnya agar lebih mengenal lingkungan belajar.Melalui makalah ini, penyusun bermaksud untuk mengubah mindsetberikut ini “kegiatan pembelajaran hanya terfokus di dalam kelas” menjadi “kegiatan pembelajaran luar kelas yang menyenangkan”.
Penyusun menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini tentu tidak terlepas dari bantuan berbagai pihak yang telah memberikan kontribusi pemikiran sehingga penyusunan makalah ini dapat terselesaikan  sebagaimana mestinya. Untuk itu penyusun mengucapkan terimakasih kepada semua pihak, terutama kepada:
1.      Orangtua yang senantiasa memberikan dukungan atas segala aktivitas positif yang kami lakukan
2.      Bapak Sukiman selaku dosen Pengampu mata kuliah Pengembangan Media dan Sumber Belajar PAI
3.      Pihak-pihak yang gagasannya terkutip dalam makalah ini
4.      Teman-temanku, khususnya keluarga PAI-F yang selalu memberikan inspirasi, motivasi, dan dukungannya.
Teriring  doa yang tulus dari penyusun, Semoga allah SWT berkenan membalas dengan pahala yang setimpal atas segala budi baik dan amal bantuan mereka semua. Akhirnya, meski jauh dari kesan sempurna, makalah ini penyusun persembahkan kepada pembaca yang budiman.Kritik dan saran yang sifatnya membangun senantiasa penyusun harapkan demi menuju perbaikan.

Yogyakarta, 22 November 2014

Penyusun


DAFTAR ISI
                                   
HALAMAN JUDUL        
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI

BAB 1 PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang                             
B.     Rumusan Masalah
C.     Tujuan
D.    Manfaat
BAB II ISI
A.    Lingkungan Belajar
1.      Pengertian
2.      Jenis
B.     Pentingnya Pemanfaatan Lingkungan Belajar
1.      Peran lingkungan sebagai sumber belajar
2.      Pentingnya aktivitas outdoor bagi perkembangan anak
3.      keuntungan
C.     Memanfaatkan Lingkungan sebagai Sumber Belajar
1.      Prinsip umum penataan arena bermain outdoor
2.      Teknik menggunakan lingkungan sebagai sumber belajar
3.      Langkah dan prosedur penggunaan
BAB III PENUTUP
A.    Kesimpulan
B.     Saran
DAFTAR PUSTAKA



BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Aktivitas belajar di sekolah bagi seorang murid merupakan rutinitas wajib yang selalu dilakukan mulai dari pagi hari hingga siang hari. Hal ini bukan tidak mungkin akan menimbulkan kebosanan dalam diri siswa jika metode belajar yang dipakai tidak dibungkus secara menarik. Apalagi jika kegiatan belajarnya hanya difokuskan di dalam kelas. Siswa tidak akan berkembang baik dari segi kognitif, afektif maupun psikomotoriknya karena tidak ada hal lain yang mereka jumpai di dalam kelas kecuali guru, teman kelas, meja, kursi,dan perlengkapan kelas lainnya. Padahal jika kita lihat di luar sana sumber pengetahuan terbuka lebar untuk diraih. Oleh karena itu disinilah pentingnya menggunakan lingkungan sebagai sumber belajar yang lain. Lingkungan menyediakan pengetahuan faktual sehingga anak tidak hanya berimajinasi akantetapi benar-benar mengalami.
B.     Rumusan Masalah
1.      Apakah yang dimaksud dengan lingkungan belajar?
2.      Mengapa kita perlu memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar?
3.      Bagaimanakah cara memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar?

C.    Tujuan
1.      Mengetahui tentang lingkungan belajar
2.      Mengetahui perlunya memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar
3.      Mengetahui cara memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar

D.    Manfaat
1.      Memberikan pengetahuan mengenai lingkungan belajar yang sesuai untuk dimanfaatkan dalam pembelajaran
2.      Membantu memaksimalkan lingkungan belajar yang belum dikelola dengan baik
3.      Mengubah mindset pendidik bahwa belajar tidak hanya terfokus di dalam kelas
BAB II
PEMBAHASAN

A.    LINGKUNGAN BELAJAR
1.      Pengertian
lingkungan belajar adalah suatu tempat yang berfungsi sebagai wadah atau lapangan terlaksananya proses belajar mengajar atau pendidikan. Tanpa adanya lingkungan, pendidikan tidak dapat berlangsung.
Menurut Huta barat (1986) lingkungan belajar yaitu lingkungan yang alami dan lingkungan sosial, lingkungan alami meliputi keadaan suhu dan kelembapan udara, sedangkan lingkungan sosial dapat berwujud manusia.Menurut dun dan dun (1999) kondisi belajar atau lingkungan belajar dpat mempengaruhi konsentrasi dan penerimaan informsi bagi siswa, jadi lingkungan belajar adalah lingkungan alami yang diciptakan oleh guru atau orang lain yang bisa menambah konsentrasi siwa dan pengetahuan siswa secara efisien.
Proses pembelajaran bisa berlangsung pada banyak lingkungan yang berbeda, tidak hanya terikat pada ruang kelas akan tetapi bisa pada lingkungan umum seperti masjid, museum, lapangan dan juga bisa berlangsung di sarana dan prasarana sekolahan[1].
2.      Jenis
Dari semua lingkungan masyarakat yang dapat digunakan dalam proses pendidikan dan pengajaran secara umum dapat dikategorikan menjadi tiga macam lingkungan belajar yakni lingkungan sosial, lingkungan alam dan lingkungan buatan.
a.      Lingkungan sosial
Lingkungan belajar sebagai sumber belajar berkenaan dengan interaksi manusia dengan kehidupan masyarakat, seperti organisasi sosial, adat dan kebiasaan, mata pencaharian, kebudayaan, pendidikan, kependudukan,struktur pemerintahan, agama dan sistem nilai. Lingkungan sosial tepat digunakan untuk mempelajari ilmu-ilmu sosial dan kemanusiaan. Dalam praktek pengajaran penggunaan lingkungan sosial sebagai media dan sumber belajar hendaknya dimulai dari lingkungan yang paling dekat, seperti keluarga, tetangga, rukun tetangga, rukun warga, desa, kecamatan, dan seterusnya. Hal ini disesuaikan dengan kurikulum yang berlaku dan tingkat perkembangan anak didik. Sebagai contoh: dalam pembelajaran ilmu bumi dan kependudukan siswa diberi tugas untuk mempelajari aspek kependudukan di rukun tetangganya. Siswa diminta untuk mempelajari jumlah penduduknya, jumlah keluarga, dan pertumbuhan penduduk dari tahun ke tahun.Dalam studi ini siswa menghubungi ketua RT dan bertanya kepadanya, disamping melihat sendiri keadaan penduduk di RT tersebut.Hasilnya dicatat dan dilaporkan di sekolah untuk dipelajari lebih lanjut.Kegiatan seperti ini ditugaskan kepada siswa dalam bentuk kelompok, agar mereka bekerja bersama-sama. Melalui kegiatan tersebut, siswa lebih aktif dan lebih produktif sebab ia mengerahkan usahanya untuk memperoleh informasi sebanyak-banyaknya dari sumber-sumber yang nyata dan faktual.
b.      Lingkungan alam
Lingkungan alam berkenaan dengan segala sesuatu yang sifatnya alamiah seperti keadaan geografis, iklim, suhu udara, musim, curah hujan, flora (tumbuhan), fauna (hewan), sumber daya alam ( air, hutan, tanah, batu-batuan, dan lain-lain). Lingkungan alam tepat digunakan untuk bidang studi ilmu pengetahuan alam.
Aspek-aspek lingkungan alam diatas dapat dipelajari secara langsung oleh para siswa melalui cara-cara seperti telah dijelaskan sebelumnya. Mengingat sifat-sifat dari gejala alam relatif tetap tidak seperti dalam lingkungan sosial, maka akan lebih mudah dipelajari para siswa. Siswa dapat mengamati dan mencatatnya secara pasti, dapat mengamati perubahan-perubahan yang terjadi termasuk proses dan sebagainya. Gejala lain yang dapat dipelajari adalah kerusakan-kerusakan lingkungan alam termasuk faktor penyebabnya seperti erosi, penggundulan hutan, pencemaran air, tanah, udara, dan sebagainya.
Dengan mempelajari lingkungan alam diharapkan para siswa dapat lebih memahami materi pelajaran di sekolah serta dapat menumbuhkan kecintaan alam, kesadaran untuk menjaga dan memelihara lingkungan, turut serta dalam menanggulangi kerusakan dan pencemaran lingkungan serta tetap menjaga kelestarian lingkungan dan sumber daya alam bagi kehidupan manusia[2].

c.       Lingkungan buatan
Lingkungan buatan yakni lingkungan yang sengaja diciptakan atau dibangun manusia untuk tujuan-tujuan tertentu yang bermanfaat bagi kehidupan manusia. Lingkungan buatan antara lain irigasi atau pengairan, bendungan, taman, kebun binatang, perkebunan, tenaga pembangkit listrik, dll. Siswa dapat mempelajari lingkungan buatan dari berbagai aspek seperti prosesnya, pemanfaatanya, fungsinya, pemeliharaannya, daya dukungnya, serta aspek lain yang berkenaan dengan pembangunan dan kepentingan manusia pada umumnya. Lingkungan buatan dapat dikaitkan dengan kepentingan berbagai bidang studi yang diberikan di sekolah[3].
B.     PENTINGNYA MEMANFAATKAN LINGKUNGAN BELAJAR
1.      Peran Lingkungan
a.       Lingkungan sebagai sasaran belajar.
Segala sesuatu di sekitar anak itumerupakan obyek untuk dipelajari/diajarkan kepada anak, atau lingkungan sebagai sasaran belajar bagi anak.Misalkan kita mempelajari tentang kurban, zakat, manasik haji, taharah.Untuk mempelajari materi tersebut maka kita memerlukan hewan kurban, manusia, benda zakat, atau lahan yang ada di lingkungan sekitar siswa yang disetting seperti ka’bah.
b.      Lingkungan sebagai sumber belajar
Beberapa sumber belajar misalnya guru,buku-buku, laboratorium, kebun sekolah, tenaga ahli, lingkungan sekitar dan sebagainya.Lingkungan merupakan sumber belajar yang tak habis-habisnya memberikan pengetahuan bagi anak.Misalnya dalam mempelajari perilaku tercela maka kita dapatmemanfaatkan lingkungan yaitu lingkungan yang tercemar atau lingkungan sekolah yang kotor sebagai salah satu akibat dari perilaku tercela.
c.       Lingkungan sebagai sarana belajar.
Setiap proses belajar memerlukan saranabelajar, misal ruang kelas dengan perabotnya, laboratorium dengan perlengkapannya, perpustakaan dan sebagainya. Lingkungan sebagai saranabelajar yang baik, bahkan lingkungan sekitar yang alami menyediakan bahan–bahan yang tidak usah dibeli, misalnya untuk menunjukkan tanda-tanda kekuasaan allah maka kita bisa membawa murid keluar kelas, kemudian mereka diminta untuk mengamati betapa banyak ciptaan allah yang ada di dunia ini.
Dengan demikian lingkungan merupakan sarana belajar yang ekonomis.(Darmodjo, 1993)[4].
2.      Pentingnya Aktivitas Outdoor dalam Optimalisasi Perkembangan Anak
Melalui aktivitas di luar ruangan atau outdoor semua bagian perkembangan anak dapat ditingkatkan.Hal ini terjadi karena aktivitas outdoor melibatkan multiaspek perkembangan anak.Aktivitas outdoor lebih berperan dalam mengintergasikan sensoris dan berbagai potensi yang dimiliki anak.Hal ini termasuk perkembangan fisik, ketrampilan sosial, dan pengetahuan budaya, serta perkembangan emosional dan intelaktual[5].
a.       Perkembangan fisik
Aktivitas outdoor dapat menjadi tempat yang menunjang bagi berbagai kegiatan dan kesemapatan belajar bagi anak-anak.Namun, bagi kebanyakan anak, peran terpenting aktivitas outdoor adalah untuk merangsang perkambangan serta partumbahan fisik.Melalui kegiatan fisik, anak-anak mendapatkan kesempatan untuk menjadi lebih sosial, mempelajari peraturan-peraturan, belajar kemandirian, mengembangkan rasa percaya diri, mengembangkan intelektualnya, dan belajar menyelesaiakan permasalahan yang muncul.
Manfaat lain dari bermain di luar adalah anak-anak menjadi tahu dan mengenal reaksi tubuh mereka sendiri saat bekerja dalam ruangan dan membandingkannya dengan situasi ketika beraktivitas di luar.
b.      Perkembangan keterampilan sosial dan pengetahuan budaya
Lingkungan di luar ruangan secara alami mendorong interaksi di antara sesama anak ataupun di antara orang dewasa dan anak-anak.Dengan interaksi ini maka keterampilan sosial mereka dapat terkembangkan. Mereka dapat mengunjungi kantor pemadam kebakaran, kantor pos, museum, rumah yatim piatu, ataupun rumah sakit. Dengan acara kunjungan ini anak-anak dapat mengembangkan sikap empati serta mengenal fungsi dan manfaat lingkungannya.Ia juga dapat mempelajari dan mengenal kondisi sosial-budaya masyarakatnya. Ia dapat melihat, mengamati, mendengarkan pembicaraan orang lain, mengenal etika ketika berhadapan dengan orang lalin, bertanya dan mencoba perlengkapan yang ia temui.
c.       Perkembangan emosional
Permainan di luar ruangan banyak memberikan peluang dan tantangan baru bagi anak.Permasalahan yang dihadapi relatif lebih kompleks dari hari ke hari.Bagi anak hal ini dapat menjadi pembelajaran yang baik.Dengan menguasai banyak tantangan yang dihadapi di luar membuat anak-anak lebih mengembangkan rasa percaya dirinya yang positif.
Rasa percaya terhadap diri sendiri dan orang lain dikembangkan melalui pengalaman hidup yang nyata. Seseorang anak membutuhkan beberapa keterampilan emosional yang harus ia penuhi, yaitu:
·         Ia harus mengenal kemampuannya dan mengakui ketidakmampuannya
·         Ia harus belajar meminta tolong dengan cara yang baik kepada orang lain saat membutuhkannya
·         Ia harus memiliki kepercayaan terhadap bantuan orang lain
·         Ia harus menghargai bantuan tersebut dengan terimakasih
Bagi anak, kemampuan untuk membicarakan perasaannya dapat terjadi secara alami jika ia berada di luar ruangan.
d.      Perkembangan intelektual
Di luar ruangan anak-anak melakuakan proses belajar melalui interaksi langsung dengan benda-benda ataupun ide-ide. Lingkungan di luar ruangan memberi kesempatan kepada guru untuk membantu anak dan menguatkan kembali konsep-konsep yang telah dipelajari sebelumnya dengan contoh yang lebih konkret dan nyata (riil), seperti warna, angka, bentuk dan ukuran.
Beberapa konsep dapat diajarkan secara alami di luar ruangan daripada di dalam ruangan.Sebagai salah satu contoh misalnya tentang keajaiban alam dan ilmu pengetahuan yang dapat diamati langsung oleh anak.Melalui lingkungan belajar di luar ruangan, anak-anak dapat belajar mengamati serta menganalisis situasi-situasi di luar ruangan.Mereka dapat mempertanyakan berbagai interaksi dan perubahan alam, sehingga pengetahuan dasar mereka tentang sains dapat berkembang pula.Manfaat lain yang diperoleh anak melaui lingkungan luar adalah adanya kesempatan terbuka lebar yang membuat anak-anak mengembangkan daya khayal serta kreativitasnya.
3.      Keuntungan
Banyak keuntungan yang diperoleh dari kegiatan mempelajari lingkungan dalam proses belajar antara lain:
a.       Kegiatan belajar lebih menarik dan tidak membosankan siswa duduk di kelas berjam-jam,sehingga motivasi belajar siswa akan lebih tinggi.
b.      Hakikat belajar akan lebih bermakna sebab siswa dihadapkan dengan situasi dan keadaan  yang sebenarnya atau bersifat alami
c.       Bahan-bahan yang dapat dipelajari lebih kaya serta lebih factual sehingga kebenarannya lebih akurat
d.      Kegiaan belajar siswa lebih komprehensif dan lebih aktif sebab dapat dilakukan dengan berbagai cara seperti mengamati, bertanya atau wawancara, membuktikan atau mendemonstrasikan, menguji fakta, dan lain-lain.
e.       Sumber belajar menjadi lebih kaya sebab lingkungan yang dapat dipelajari bisa beraneka raga seperti lingkungan sosial, lingkungan alam, lingkungan buatan, dan lain-lain.
f.       Siswa dapat memahami dan menghayati aspek-aspek kehidupan yang ada di lingkungannya, sehingga dapat membentuk pribadi yang tidak asing dengan kehidupan di sekitarnya, serta dapat memupuk cinta lingkungan.




C.    MENGGUNAKAN LINGKUNGAN SEBAGAI SUMBER BELAJAR
1.      Prinsip umum penataan arena bermain outdoor
a.       Memenuhi aturan keamanan
Keamanan merupakan hal utama yang harus diperhatikan oleh pihak sekolah. Hal ini dilakukan untuk mengatisipasi kecelakaan yang dapat terjadi kapan saja, dan di mana saja
b.      Melindungi dan meningkatkan karakteristik alamiah anak
Pada umumnya anak-anak secara alamiah sangat menyukai aktivitas di luar ruangan. Bagi anak situasidan kondisi apa pun dapat menjadi kegiatan yang menarik. Melalui aktivitas ourdoor para guru diharapkan memahami kebutuhan tersebut dan memfasilitasinya tanpa banyak melakukan intervensi.
c.       Desain lingkungan luar kelas harus didasarkan pada kebutuhan anak
Sebagian profesional dalam bidang anak usia dini sepakat bahwa bermain dapat meningkatkan berbgai aspek perkembangan (yakni fisik, kognitif, sosial dan emosi) sekalipun penekanan ditempatkan pada berbagai aspek perkembangan akan bervariasi tergantung pada focus dan prioritas program yang diberlakukan
d.      Secara estetis harus menyenangkan
Ruang outdoor harus menarik bagi semua indra. Hal ini akan berpengaruh terhadap motivasi anak untuk beraktivitas, juga meningkatkan kepekaan rasa anak dalam menyerap estetika[6].
2.      Teknik Menggunakan Lingkungan sebagai Sumber Belajar
Ada beberapa cara bagaimana mempelajari lingkungan sebagai media dan sumber belajar, yaitu:
a.      Survey
siswa mengunjungi lingkungan seperti masyarakat setempat untuk mempelajari proses sosial, budaya, eonomi, kependudukan dan lain-lain. Kegiatan belajar dilakukan siswa melalui observasi, wawancara dengan berbagai pihak yang dipandang perlu, mempelajari data atau dokumen yang ada, dan lain-lain.Hasilnya dicatat dan dilaporkan di sekolah untuk dibahas bersama dan disimpulkan oleh guru dan siswa untuk melengkapi bahan pengajaran.
b.      Field trip atau karya wisata
Dalam pengertian pendidikan karyawisata adalah kunjungan siswa keluar kelas untuk mempelajari objek tertentu sebagai bahan integral dari kegiatan kurikuler di sekolah. Objek karyawisata harus relevan dengan bahan pengajaran misalnya museum untuk pelajaran sejarah, kebun binatang untuk pelajaran biologi, taman mini untuk pelajaran ilmu bumi dan kebudayaan, peneropongan bintang di Lembang untuk fisika dan astronomi. Karyawisata sebaiknya dilakukan pada akhir semester atau catur wulan dan dikaitkan dengan keperluan pengajaran dari berbagai bidang studi secara bersama-sama dan dibimbing oleh guru bidang studi yang bersangkutan.
c.       Praktik lapangan
Praktik lapangan dilakukan oleh para siswa untuk memperoleh ketrampilan dan kecakapan khusus.Misalnya siswa SPG diterjunkan ke sekolah dasar untuk melatih kemampuan sebagai guru di sekolah.Siswa SMEA dikirimkan ke perusahaan untuk mempelajari dan mempraktekkan pembukuan, akutansi dan lain-lain.
d.      Mengundang manusia sumber atau narasumber
Sekolah mengundang tokoh masyarakat ke sekolah untuk memberikan penjelasan mengenai keahliannya di hadapan para siswa. Misalnya mengundang dokter atau mantri kesehatan untuk menjelaskan berbagai penyakit, petugas keluarga berencana untuk menjelaskan keluarga kecil, petugas pertanian untuk  menjelaskan cara bercocok tanam, dan lain-lain.
e.       Melalui proyek pelayanan dan pengabdian pada masyarakat
Cara ini dilakukan apabila sekolah (guru dan siswa secara bersama-sama melakukan kegiatan memberikan bantuan kepada masyarakat seperti pelayanan, penyuluhan, partisipasi dalam kegiatan masyarakat, dan kegiatan lain yang diperlukan. Misalnya para siswa membantu memberikan pelayanan posyandu, perbaikan jembatan, jalan-jalan, kebersihan lingkungan, dan lain-lain[7].
f.        Night at school
Night at school adalah pintu gerbang untuk mengikuti asyiknya petualangan belajar. Di saat anak kelas satu sudah merasa  nyaman berinteraksi di sekolah, maka kini saatnya mereka mendapatkan suasana yang berbeda: berpisah dengan orangtua selama semalam, dan tidur bersama teman-teman.Dengankata lain, NAS merupakan ajang pembuktian: mampukah anak-anak sejenak terlepas dari rumah? Melalui kegiatan ini guru bisa menjalin kedekatan emosi dengan anak-anak.Tujuan NAS adalah meningkatkan keberanian, kemandirian, tanggungjawab dan leadership.Pembentukan karakter dimulai sejak awal anak masuk sekolah.NAS bisa menjadi salah satu alat ukur, sampai di mana kemajuan yang mereka peroleh selama tiga bulan bersekolah.Selama menginap di sekolah, semua anak berusaha mengurus diri sendiri.Tidak ada orang tua atau guru yang membantu.Kalaupun ada, maka yang membantu adalah teman-teman mereka sendiri.Mereka makan malam bersama-bakar jagung, ayam, atau ikan jika ada.Shalat berjamaah, mengaji, menyimak kisah-kisah kepahlawanan, dan saling bercerita.Dalam suasana yang akrab, anak-anak kelas 1 diharapkan mulai berani mengungkapkan pendapat, dan anak-anak kelas 2-3 mulai belajar menghargai pendapat kawan dan adik-adik kelasnya.
g.      Homestay
Program ini mengantarkan anak-anak berinteraksi dengna kehidupan yang sangat berbeda dengan kesehariannya.Selama tiga hari mereka bukan hanya berpisah dengan keluarga dan merasakan suasana keluarga baru, tetapi juga mengukuhkan suasana pedesaan, mengolah kemampuan beradaptasi, dan menegakkan kemandirian. Di desa, anak-anak juga memperoleh kesempatan yang segar untuk memupuk jiwa kepemimpinan, rasa percaya diri, dan empati. Tidak ketinggalan muatan kurikulum juga dimasukkan dalam kemasan program homestay.Homestay berbeda dengan piknik ke kampung wisata.Tiga sampai empat anak dititipkan selama dua malam tiga hari di rumah-rumah penduduk desa. Selain pertimbangan vegetasi dan topografi yang bisa menjadi wahana belajar, tim survei juga memastikan bahwa penduduk desa yang menjadi lokasi homestay bersedia menerima “kehebohan” anak-anak.


h.      Camping
Camping merupakan aktivitas yang menguji ketahanan fisik, mental, dan juga emosi. Kerja sama tim, tanggungjawab, dan kepemimpinan anak-anak dilatih. Tujuannya jelas yaitu melatih tanggungjawab dan kepemimpinan.Orangtua diminta untuk menahan diri, dan lebih banyak memberikan kepercayaan kepada anak-anak.Bantuan yang berlebihan berarti merebut kesempatan anak untuk belajar.Game-game dirancang untuk membentuk kekompakan, kepemimpianan, tanggungjawab dan kegigihan. Game ketahanan fisik seperti merayap, memanjat, meluncur, dan menjaga keseimbangan diujikan. Sambil menjalankan ujian fisik, berbagai pertanyaan brain buster juga dilontarkan para guru untuk melatih konsentrasi. Ada juga game yang menguji konsentrasi seperti mengoper telur jatah makan malam mereka dengan menggulirkannya dari satu anak ke anak lain menggunakan kulit batang pisang. Jika telur sampai jatuh dan pecah, maka lenyaplah lauk untuk makan malam itu.
Kegiatan camping juga diisi uji keberanian berjalan di tengah malam.Tujuannya bukan menakut-nakuti anak.Karena itu, materi di setiap pos juga dirancang untuk membangun ketahanan mental dan control emosi.
i.        Supercamp
Kunci keberhasilan belajar adalah menguasai cara belajar. Di supercamp anak-anak kelas 5 dan 6 dibimbing untuk menggidentifikasi gaya belajar yang efektif bagi dirinya. Bukan hanya itu, mereka dipandu untuk mengenal diri sendiri, memahami perasaan atau keinginan dan cara pengungapannya dan mampu menentukan tujuan.
Selama supercamp, anak mendapatkan pengalaman tentang bagaimana mengelola dan memanfaatkan waktu.Mereka dilatih untuk mengerjakan tugas dengan alokasi waktu yang jelas.Tujuan yang lebih besar adalah agar anak mendapatkan insight bahwa sesungguhnya mereka adalah pribadi yang unik dan hebat.
Melalui berbagai kuis, anak-anak dituntun untuk menemukan suasana yang bisa membantunya belajar. Selain itu, mereka juga menelisik factor-faktor apa saja yang bisa mengganggu konsentrasinya. Ada juga kuis yang didesain untuk memetakan, bagaimana seorang anak  memandang diri, lingkungan, kedua orangtua dan keluarganya.Berikut sekilas materi yang biasa diberikan dalam supercamp:Menciptakan pusat belajar di rumah, manajemen waktu, tips dan trik menyimak dan mencatat, menjadi pembaca yang lebih baik, menulis dengan benar[8].
3.      Langkah dan Prosedur Penggunaan
Menggunakan lingkungan sebagai media dan sumber belajar dalam proses pengajaran memerlukan persiapan dan perencanaan yang seksama dari guru. Tanpa perencanaan yang matang kegiatan belajar siswa bisa tiak terkendali, sehingga tujuan pengajaran tidak tercapai dan siswa tidak melakukan kegiatan belajar yang diharapkan. Ada beberapa langkah yang harus ditempuh dalam menggunakan lingkungan sebagai media dan sumber belajar, yakni[9]:
a.       Langkah persiapan
Ada beberapa prosedur yang harus ditempuh pada langkah persiapan yakni:
1)      Guru dan siswa menentukan tujuan belajar yang diharapkan diperoleh para siswa berkaitan dengan penggunaan lingkungan sebagai media dan sumber belajar.
2)      Tentukan objek yang harus dipelajar dan dikunjungi. Dalam menetapkan objek kunjungan tersebut hendaknya diperhatikan relevansi dengan tujuan belajar.
3)      Menentukan cara belajar siswa pada saat kunjungan dilakukan. Misalnya mencatat apa yang terjadi, mengamati suatu proses, bertanya atau wawancara. Di samping itu ada baiknya siswa dibagi menjadi beberapa kelompok dan setiap kelompok diberi tugas khusus dalam kegiatan belajarnya.
4)      Guru dan siswa mempersiapkan perizinan jika diperlukan. Misalnya membuat dan mengirimkan surat permohonan untuk mengunjungi objek tersebut agar mereka dapat mempersiapkannya.
5)      Persiapan teknis yang diperlukan untuk kegiatan belajar, seperti tata tertib di perjalanan dan di temapat tujuan, perlengkapan belajar yang harus dibawa, menyusun pertanyaan yang akan diajukan,kalau ada kamera untuk mengambil foto, transportasi yang digunakan, biaya, makanan, atau perbekalan, perlengkapan P3K.

b.      Langkah pelaksanaan
Pada langkah ini adalah menentukan kegiatan belajar di tempat tujuan sesuai dengan rencana yang telah dipersiapkan.
1)      Kegiatan belajar diawali dengan penjelasan petugas mengenai objek yang dikunjungi
2)      Para siswa mengajukan beberapa pertanyaan melalui kelompoknya masing-masing supaya lebih hemat.
3)      Semua siswa mencatat semua informasi yang diperoleh
4)      Para siswa melihat dan mengamati objek yang dipelajari (para petugas memberikan penjelasan berkaitan dengan cara kerja atau proses kerja)
5)      Para siswa dalam kelompoknya mendiskusikan hasil-hasil belajarnya
6)      Akhir kunjungan para siswa mengucapkan terimakasih kepada petugas dan pimpinan objek tersebut
Apabila objek kunjungan sifatnya bebas dan tak perlu ada petugas yang mendampinginya, seperti kemah, mempelajari lingkungan sosial, dan lain-lain, para siswa langsung mempelajari objek studi, mencatat dan mengamatinya atau mengadakan wawancara dengan siapa saja yang menguasai persoalan.
c.       Tindak lanjut
Tindak lanjut dari kegiatan belajar melalui lingkungan adalah membahas dan mendiskusikan hasil yang diperoleh siswa selama kegiatan berlangsung.
1)      Setiap kelompok diminta melaporkan hasil-hasilnya untuk dibahas bersama.
2)      Guru meminta kesan-kesan yang diperoleh siswa dari kegiatan belajar tersebut, disamping menyimpulkan materi yang diperoleh dan dihubungkan dengan bahan pengajaranbidang studinya.
3)      Guru memberikan penilaian terhadap kegiatan belajar siswa dan hasil-hasil yang dicapainya.
Proses pengajaran yang mengoptimalkan lingkungan sebagai media dan sumber belajar dikenal dengan pendekatan ekologis.

PENUTUP

A.    Kesimpulan
1.      Lingkunganbelajar adalah suatu tempat yang berfungsi sebagai wadah atau lapangan terlaksananya proses belajar mengajar atau pendidikan.
2.      Jenis lingkungan belajar meliputi : lingkungan sosial, lingkungan alam, dan lingkungan buatan.
3.      Peran lingkungan belajar: lingkungan sebagai sasaran belajar,lingkungan sebagai sumber belajar ,danlingkungan sebagai sarana belajar.
4.      Pentingnya aktivitas outdoor dalam optimalisasi perkembangan anak :melalui aktivitas di luar ruangan atau outdoor semua bagian perkembangan anak dapat ditingkatkan. Hal ini termasuk perkembangan fisik, ketrampilan sosial, dan pengetahuan budaya, serta perkembangan emosional dan intelaktual.
5.      Keuntungan lingkungan sebagai sumber belajar:
a.       Kegiatan belajar lebih menarik dan tidak membosankan
b.      Hakikat belajar akan lebih bermakna
c.       Bahan-bahan yang dapat dipelajari lebih kaya serta lebih factual
d.      Kegiaan belajar siswa lebih komprehensif dan lebih aktif
e.       Sumber belajar menjadi lebih kaya
f.       Siswa dapat memahami dan menghayati aspek-aspek kehidupan yang ada di lingkungannya
6.      Prinsip umum penataan arena bermain outdoor:
a.       Memenuhi aturan keamanan
b.      Melindungi dan meningkatkan karakteristik alamiah anak
c.       Desain lingkungan luar kelas harus didasarkan pada kebutuhan anak
d.      Secara estetis harus menyenangkan
7.      Teknik menggunakan lingkungan sebagai sumber belajar:
a.      Survey
b.      Field trip atau karya wisata
c.       Praktik lapangan
d.      Mengundang manusia sumber atau narasumber
e.       Melalui proyek pelayanan dan pengabdian pada masyarakat
f.        Night at school
g.      Homestay
h.      Camping
i.        Supercamp
8.      Langkah dan prosedur penggunaan:
a.       Langkah persiapan
b.      Langkah pelaksanaan
c.       Tindak lanjut

B.     Saran
Para pendidik hendaknya tidak hanya membuat kegiatan pembelajaran terfokus di kelas, akantetapi juga mengajak murid sesekali belajar di luar kelas.Hal ini disamping untuk mengenalkan anak pada lingkungan sekitar juga dimaksudkan untuk memberikan variasi metode mengajar yang menyenangkan.












DAFTAR PUSTAKA


Sudjana, Nana dan Ahmad Rivai.1990.Media Pengajaran:penggunaan dan pembuatannya.Bandung: Sinar Baru.
Mariyana,Rita. et.al.2010.Pengelolaan Lingkungan Belajar. Jakarta: Kencana.
Farida,Ana. et.al.2012. Sekolah yang Menyenangkan.Bandung: Nuansa Cendekia.
Samal, Sharon E. et.al.2011.Teknologi Pembelajaran dan Media Untuk Belajar.Jakarta: Kencana.
Pratiwi Pudjiastuti.2009.Pemanfaatan Lingkungan Sekitar dalam Pembelajaran IPA di Sekolah Dasar(SD).Yogyakarta.



[1]Sharon, E. Samal, Dino dkk., Teknologi Pembelajaran dan Media Untuk Belajar (Jakarta: Kencana,2011) hal 17
[2]Nana Sudjana dan Ahmad Rivai, Media Pengajaran (Bandung: Sinar Baru Algensindo, 2007) hal 212-213
[3]Nana Sudjana dan Ahmad Rivai, Media Pengajaran (Bandung: Sinar Baru Algensindo, 2007) hal 214
[4]Pratiwi Pudjiastuti. Pemanfaatan Lingkungan Sekitar dalam Pembelajaran IPA di Sekolah Dasar(SD).(Yogyakarta: 2009) Hal 5
[5] Rita Mariyana.et.al.Pengelolaan Lingkungan Belajar.(Jakarta: Kencana,2010).Hal 101
[6]Ibid. hal 107
[7]Nana Sudjana dan Ahmad Rivai, Media Pengajaran (Bandung: Sinar Baru Algensindo, 2011) hal 209
[8] Anna Farida. et.al.Sekolah yang Menyenangkan.(Bandung:Nuansa Cendekia,2012) hal 239
[9]Nana Sudjana dan Ahmad Rivai,Media Pengajaran (Bandung: Sinar Baru Algensindo, 2007) hal 214